Pasang Iklan Baris Gratis


Nama
Email
Judul
Isi
Gambar
Kategori
Tags/keywords
Website

Rabu, 26 Agustus 2009

:: Menolak Jadi Istri Kedua?

Nama: adwan
Email: adwanali@gmail.com
Judul: Menolak Jadi Istri Kedua?
Isi: Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apakah salah menikah dan menjadi istri kedua? Apa yg harus dilakukan jika istri pertama tidak setuju?

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

asti

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menikah atau lebih tepatnya dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri, asalkan dengan akad nikah yang sah, tentu hukumnya halal. Secara hukum fiqih, persetujuan istri pertama atau sering juga disebut dengan istri tua (walau pun belum tentu sudah tua), tidak dibutuhkan dalam sebuah akad nikah.

Jadi ketika anda sebagai wanita, dinikahi oleh seorang laki-laki yang istrinya tidak setuju atas pernikahan itu, hukum pernikahan anda berdua tetap sah di mata kaca mata fiqih Islam.

Tapi terus terang saja, jawaban ini masih belum mempertimbangkan sisi kemanusiaan apalagi sisi perasaan seorang wanita yang pada lazimnya tidak mau dimadu oleh suaminya.

Lalu bagaimana jawaban yang berimbang?

Umumnya dimana-mana kita menemukan adanya wanita yang rela dimadu. Bahkan ketidak-relaan dimadu itu seringkali bukan hanya terjadi pada wanita yang bersangkutan secara langsung, bahkan juga seringkali terjadi pada pihak keluarga wanita itu. Seringkali orang tua, kakak, adik serta kerabat dari istri tua akan merasa tidak nyaman, atau merasa direndahkan, karena adanya pernikahan kedua.

Hal seperti ini bisa kita fahami kalau kita sendiri menjadi seorang ayah, dimana anak gadis kita yang sudah bersuami itu, ternyata dijadikan istri tua, alias si suami kawin lagi. Tentu sebagai ayah, kita akan merasa kasihan sekaligus kecewa bila hal itu menimpa anak gadis kita sendiri.

Barangkali hal itu pula yang mendasari kenapa Rasulullah SAW meminta menantunya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang nota bene juga sepupunya, bahkan boleh dibilang juga pernah menjadi anak asuhnya, untuk tidak memadu sang puteri, Fatimah radhiyallahu 'anha. Setidaknya, Ali tidak kawin lagi selama masih ada Rasulullah SAW.

Rasa sayang Muhammad SAW sebagai ayah kandung dari puteri tercinta, rupanya sampai ke titik untuk meminta sang menantu tidak menduakan sang istri. Dan Ali bin Abi Thalib, tentu dengan senang hati menuruti permintaan sang mertua tercinta.

Padahal secara hukum, tidak ada haramnya bila Ali -misalnya- nekat. Kalau mau, Ali bisa saja bilang, kenapa tidak boleh menikah lagi? Bukankah tidak ada hukum yang melarangnya? Mana dalil Quran yang mengharamkan nikah lagi? Mana dalil Quran yang mengharamkan poligami?

Jawabnya tentu tidak ada.

Namun sikap patuh Ali bin Abi Thalib kepada permintaan sang mertua agaknya lebih merupakan pertimbangan sisi kemanusiaan. Dan meluluskan permintaan itu juga hak seorang menantu. Tentu semua demi pertimbangan kenyamanan semua pihak, baik istri, mertua atau diri beliau sendiri.

Tidak Mau Dinikahi Laki-laki Yang Sudah Beristri

Dengan pertimbangan di atas, sebenarnya adalah seorang wanita ketika dirinya menolak untuk dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri. Tidak ada yang salah dengan penolakan dengan alasan demikian.

Secara hukum memang ada salahnya ketika ada seorang wanita rela dinikahi untuk menjadi istri kedua, meski tanpa persetujuan dari istri pertama. Dengan catatan, apa yang dibenarkan oleh hukum, terkadang belum tentu menjamin kenyamanan orang lain, yang tentunya berimbas kepada kenyamanan diri sendiri.

Maksudnya?

Begini, dulu sekali, di tahun 77-an, pernah ada sebuah film yang terkenal diputar di layar tancap. Judulnya agak serem : Guna-guna Istri Muda. Wah, kok sampai ke layar tancep segala? Kisahnya seputar laki-laki yang menikahi 2 wanita, dan muncullah konflik berat akibat pernikahan itu. Masalah demi masalah muncul mulai dari urusan cemburu lalu akhirnya menjadi perang antar dukun dengan ilmu ghaib.

Saking ngetopnya fim itu, sampai dibuat sekuelnya, yaitu Pembalasan Guna-guna Istri Muda.

Lalu apa hubungannya dengan jawaban fiqih ini?

Ya jawabnya sederhana saja, yaitu buat bangsa kita, kadang urusan cemburu antara istri tua dan istri muda, bisa membawa ke arah kemusyrikan dan kemungkaran yang jauh lebih besar resikonya.

Tentu kita tidak bisa menggeneralisir keadaan itu, sebab buktinya banyak kok pasangan poligami (istilahnya mungkin bukan pasangan ya, tapi unit?) yang hidup mereka harmonis.

Percaya tidak percaya, ini kisah nyata tapi memang langka. Istri tua malah mencarikan buat suami calon istri mudanya, sampai-sampai istri tua itulah yang melamarkan, mempersiapkan acara pernikahan, sampai urusan menghias kamar pengantin dan seterusnya.

Konon semua itu dilakukan oleh istri tua dengan ikhlasnya lantaran dirinya mengharapkan keridhaan suaminya. ?Saya kenal dengan wanita yang luar biasa itu, walau pun belum pernah bertemu langsung.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc (wi)

http://mediaislam.oaseadwan.info/menolak-jadi-istri-kedua/
Kategori: Alat Kantor
Tags/keywords: Menolak Jadi Istri Kedua?
Website: http://mediaislam.oaseadwan.info/menolak-jadi-istri-kedua/
---------------------------------------------------------------------
Visitor Ip: 125.162.96.181

Seja o primeiro a comentar

Poskan Komentar

Followers

Iklan Mabrur © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO